Demo Site
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Lepas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2010

Dijalan Mana Anda Menikah?


Kupeluk ia dengan sepenuh-penuh rindu
Namun terobatikah rindu setelah itu?
Kukecup bibirnya demi melepaskan tuntutan gejolak hati
Namun ia semakin menjadi-jadi
Sepertinya kegelisahan jiwa tak bisa terobati
Kecuali jika kedua nyawa ini bertemu (dalam ikatan suci)
"Ibnu Ar Rumi"

Yang terpenting dari setiap perbuatan ialah niatnya, "Bahwasanya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasanya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya..." (HR. Bukhari dan Muslim). Kalau niat anda bukan untuk beribadah kepada Allah dan untuk menegakkan syari'at Islam berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah Rasulullah, berhentilah membaca dan temukan dahulu niat yang tulus ikhlas tersebut !!!
"Tidaklah Rasulullah saw dihadapkan pada pilihan antara dua hal, kecuali beliau mengambil yang lebih mudah, asalkan bukan dosa" (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah saw bersabda kepada 'Ukaf bin Wada'ah Al Hilali, " Apakah engkau telah beristri wahai 'Ukaf ?" Ia menjawab, "belum", Rasul saw bersabda , " tidakkah engkau mempunyai budak perempuan ?" Jawabnya "Tidak". Sabda beliau, "bukankah engkau sehat lagi berkemampuan?" Jawab 'Ukaf, " Ya, Alhamdulillah ". Maka beliau bersabda: " Kalau begitu engkau termasuk teman setan. Karena engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani, lantaran itu berarti engkau termasuk dalam golongan mereka . Atau mungkin engkau termasuk golongan kami, lantaran itu hendaknya engkau berbuat seperti yang menjadi kebiasaan kami, karena kebiasaan kami adalah beristri. Orang yang paling durhaka di antara kalian ialah yang membujang, dan orang mati yang paling hina diantara kamu ialah kematian bujangan . Sungguh celaka kamu wahai 'Ukaf. Oleh karena itu menikahlah !"...(HR. Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar)
" Barang siapa telah mempunyai kemampuan untuk menikah kemudian ia tidak menikah maka dia bukan termasuk umatku"(HR. Thabrani dan Baihaqi)
Al Hafizh Ibnu Hajar berkata" Para ulama membagi orang dalam perkawinan menjadi beberapa macam. Pertama orang yang sudah berkeinginan untuk menikah dan mampu membiayai kehidupan serta merasa khawatir terhadap dirinya (akan terjerumus ke dalam perbuatan tercela jika tidak menikah), maka orang ini dianjurkan (disunnahkan) untuk menikah menurut semua ulama, dan dari madzhab Hambali dalam salah satu riwayat menambahkan bahwa dia wajib menikah".
"Dan nikahkanlah orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak nikah di antara hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya, dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui" (An Nur: 32)
"Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa" (Al An'am: 153)
Jika ingin mendapat pasangan yang baik, jadikan diri baik terlebih dahulu. Jika ingin mendapatkan istri yang salehah, jadikan diri anda saleh terlebih dahulu, dan sebaliknya. Bagaimana anda menuntut istri anda sekualitas Fatimah, sedangkan anda sendiri tidak sekapasitas Ali ? Bagaimana mungkin anda berharap istri anda setabah Sarah dan Hajar, sedangkan anda tidak sekokoh Ibrahim as ?
"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita yang kaji (pula). Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)" (An Nur: 26)
Persiapan-persiapanya :
Jika anda laki-laki, ada kesiapan dalam diri anda untuk bertindak sebagai qawam dalam RT, berfungsi sebagai bapak bagi anak-anak yang akan lahir nantinya, bisa menanggung segala beban-beban yang disebabkan oleh karena posisi anda sebagai suami dan bapak, mampu memberikan kepuasan optimal kepada istrinya dalam hak istimta' ."Dan kalian wajib memberikan nafkah kepada mereka (istri-istri) dan memberi pakaian secara ma'ruf" (HR Muslim), mampu menyandang status sosial yang tadinya lajang dia masih menjadi bagian dari keluarga orang tuanya, setelah menikah mereka mulai dihitung sebagai keluarga tersendiri, dan masih banyak yang lainnya.
Jika anda perempuan, ada kesiapan untuk membuka ruang baru bagi intervensi seorang mitra bernama suami, kesiapan untuk mengurangi sebagian otoritas atas dirinya sendiri lantaran tunduk pada prinsip syura dan ketaatan pada suami, kesiapan untuk hamil, melahirkan dan menyusui. Siap menanggung beban-beban baru yang muncul akibat hadirnya anak, dan masih banyak yang lainnya.
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan sesuatu. Dan berbuat baiklah terhadap orang tua, kerabat-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan dirinya (An Nisa: 36)
Yaa Allah, sesungguhnya hambaMu ini memohon kepadaMu dengan IlmuMu pilihan yang paling tepat, hambamu ini memohon kekuatan kepadaMu dengan ke Maha KekuasaanMu, hambaMu memohon KaruniaMu yang besar. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa, sedangkan hambaMu ini tidak kuasa, Engkau Maha Mengetahui sedangkan hambaMu ini tidak mengetahui, dan Engkau yang mengetahui perkara yang Ghaib
Yaa Allah, apabila Engkau mengetahui apabila perkara ini baik bagi agama hamba-hambaMu, dan baik akibatnya bagi diri hamba-hambaMu ini di dunia maupun di akhirat, maka tetapkanlah dan mudahkanlah. Sesungguhnya apabila Engkau mengetahui bahwa perkara ini buruk bagi agama hamba-hambaMu, dan buruk akibatnya bagi hamba-hambaMu ini di dunia maupun di akhirat, maka jauhkanlah perkara ini dari hamba-hambaMu dan jauhkanlah diri hamba-hambaMu ini darinya. Tetapkanlah kebaikan untuk hamba-hambaMu dimanapun hamba-hambaMu ini berada, dan jadikanlah hamba-hambaMu ini ridha menerimanya... (HR. Bukhari)
Untuk para muslim dan muslimah yang belum berkeluarga. Ingat ! Menikah itu sunnah Rasulullah, jika engkau miskin Allah akan memampukanmu dengan karuniaNya.

Read More...

Rabu, 14 April 2010

Katakan Aku Cinta Padamu


Kawan, saat engkau bangun pagi ini, sudahkah engkau katakan cinta bagi orang-orang terdekat: Istri atau Suami? Ibu, Bapak, Kakek, Nenek, Adik, Kakak dan kerabatmu?
Belum, mungkin itu jawabmu. Karena di keluargamu tak ada budaya mengatakan cinta. Hingga kagok terasa bila harus mengungkapkannya.

Boro-boro, barangkali itu katamu. Sedang pagi hari semua harus ke tampat kerja dan ke sekolah, berpacu dengan waktu. Mana sempat bilang I Love U?
Kawan, saat bertemu dengan para sahabat hari ini, sudahkah engkau sampaikan cinta bagi mereka? Semua orang dekat baik di mata maupun di hati? Semua orang dekat baik karena darah maupun pertalian aqidah?
Tidak! Mungkin begitu tangkismu. Kebersamaanmu dengan mereka lebih karena tuntutan kerja dan aktifitas, mungkin itu jawabnya.
Tak biasa! Barangkali demikian kau bilang. Toh, obrolan dan jalan bersama sudah menunjukkan cinta. Hingga ia tak harus diuntai dalam kata. Sedang sikap dan perhatian lebih menunjukkan rasa yang kau punya untuk mereka.
Bisa jadi demikian halnya. Namun, alangkah indah jika engkau coba Sabda kekasihNya.
Dari Abu Karimah Al Miqdad bin Ma'dikariba ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai Saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya” (HR Abu Daud)
Dari Anas ra, ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi SAW, kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya, Rasulullah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.” Nabi SAW bertanya: “Apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya?” Dia menjawab: “belum.” Beliau bersabda: “Beritahukanlah kepadanya!” Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.” Orang itu menjawab: “Semoga kamu dicintai oleh Zat yang menjadikanmu mencintaiku karenaNya” (HR Abu Daud)
Kawan, pernahkah engkau mengunjungi kerabat, saudara dan sahabat, hanya karena engkau ingin mengunjunginya? Semata karena ingin menjalin tali cinta?
Tidak sempat. Bisa jadi seperti itu alasanmu. Terlalu banyak pekerjaan dan urusan yang tak mungkin ditinggalkan.
Kawan, pernahkah engkau menelepon 'hanya' untuk sekedar bersilaturahmi? Sekedar menyapa, mendengar suara di seberang sana dan menanyakan kabarnya?
Ah, tak terpikirkan. Dapat pula itu ungkapmu. Sedang masih banyak nomor terkait kewajiban menunggu untuk dihubungi.
Mungkin ada baiknya, jika engkau dengar sabda Sang Nabi berikut ini.
Dari Abu Hurairah ra, dari nabi SAW, beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang akan berkunjung ke tempat Saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah ta'ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah malaikat itu berjumpad engannya ia bertanya: “Hendak kemanakah kamu?” Ia menjawab: “Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.” Malaikat bertanya lagi: “Apakah kamu merasa berhutang budi padanya sehingga merasa perlu mengunjunginya? Laki-laki itu menjawab: ”Tidak. Aku mengunjunginya semata karena aku mencintainya karena Allah ta'ala. Malaikat kemudian berkata: “Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah (HR Muslim)
Kawan, sudahkah kau jabat tangan saudaramu ketika bertemu? Sudahkah kau peluk keluargamu hari ini?
Pasti, seperti itu barangkali kau sampaikan. Karena itu telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Bukan, sahabat! Karena ia adalah sesuatu yang disunnahkan. Menjadi penggugur dosa para pelakunya. Mewujudkan cinta para penghasungnya. Semoga berita yang dibawa sahabat dari sang pembawa risalah meneguhkanmu.
Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: “Nabi SAW mencium Al Hasan bin Ali ra, kemudian Aqra' bin Habis berkata: Sesungguhnya saya memiliki sepuluh anak, tetapi saya tidak pernah mencium seorang pun dari mereka.” Maka Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi ia tidak akan dikasihi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari 'Aisyah ra, ia berkata: “Zaid bin Haritsah dtang ke Madinah dan rasulullah SAW sedangn berada di rumahku, kemudian ia datang dan mengetuk pintu, lantas Nabi SA bangkit dan menarik kainnya, serta memeluk dan menciumnya.” (HR Turmudzi)
Dari Al Barra' ra, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ dua orang islam yang bertemu kemudian mereka berjabat tangan maka dosa kedua orang tersebut diampuni sebelum keduanya berpisah.” (HR Abu Dawud)
Kawan, mengatakan cinta bukanlah tabu, bahkan ia disunnahkan Al musthafa.. Engkau tidak harus romantis untuk melakukannya. Engkau tidak usah malu karena merasa sudah bukan masanya. Karena cinta tidak mengenal usia. Bolehlah ia diungkap oleh anak kepada Bapak dan ibunya, Ayah bunda pada sang putra, keponakan kepada kerabatnya. Seseorang pada sahabatnya. Terlebih bagi pasangan hidupnya. Karena cinta adalah bahasa dunia.
Maka, apa yang menghalangimu mengatakan Aku Cinta Padamu hari ini, dan menunjukkan kasih sayang pada keluarga, saudara, kaum kerabat dan sahabat?

Read More...

Jumat, 09 April 2010

Wajah, Pentingkah?


eramuslim - Simpatik, dewasa, menyenangkan, bisa memahami, enak diajak bicara dan yang paling penting, mencintai! Meski memenuhi segala persyaratan yang memungkinkan orang menyukainya dengan segala kelebihan diatas, namun terdapat satu kekurangan pada dirinya, wajahnya yang terlalu biasa. Sehingga hal kecil (soal wajah) yang sebenarnya tidak terlalu penting itu menjadi ganjalan untuk memberikan sikap balasan yang sepadan, mencintainya pula.

Sebagian orang menganggap wajah menarik -cantik ataupun tampan- adalah menyenangkan. Sekilas tampak berbeda memang, meski hanya sebatas itu kelebihan yang dimilikinya. Bagi setiap mata yang memandang keelokan paras seseorang, memungkinkan setiap pemilik mata itu suka bahkan jatuh cinta!
Menentukan pilihan untuk dijadikan calon pendamping hidup terkadang membingungkan bagi sebagian wanita. Antara memilih yang memiliki pemahaman bagus akan agamanya (sholeh) tetapi tidak berwajah tampan atau mengharap yang rupawan tetapi kurang pemahamannya akan berbagai hal, baik itu agama, pengetahuan umum serta sikap simpatik dan kedewasaannya. Tentu jika boleh memilih, pasti memilih yang menarik rupanya, pintar, sholeh pula.
Masalahnya sekarang, entah sampai kapan pilihan-pilihan dengan berbagai sisi kekurangan itu kerap terjadi. Sebenarnya, seberapa pentingkah wajah seorang laki-laki bagi wanita? Sebab, banyak wanita yang hingga saat ini meyakini bahwa wajah merupakan cerminan batin. Keyakinan seperti ini memang agak sulit ditolak, meski dalam beberapa hal, juga harus diakui, bahwa batin seseorang terlalu luas untuk dicerminkan hanya dalam seraut wajah. Atau pemahaman sebaliknya, wajah terlalu sempit untuk bisa mengungkapkan seluruh isi hati dan jiwa seseorang.
Tetapi, memang sudah kodratnya, mata diciptakan untuk cenderung dan suka pada hal-hal yang indah. Tak mengherankan pula bila setiap wanita berharap, dibalik wajah rupawan seorang lelaki tersimpan jiwa yang indah pula, yang mana hal itu acapkali menjadi harapan setiap wanita dalam mencari pasangan hidup.
Seberapa penting wajah seorang lelaki bagi wanita?

Saat anda berkenalan dan hendak memulai suatu hubungan, wajah memang seringkali menimbulkan rasa simpati. Melihat wajah seseorang yang bersih, terlebih tampan, kita akan merasa senang, dan betah berlama-lama untuk berbincang, tentu tidak sedikit wanita yang sekaligus melambungkan angan.
Tetapi, untuk hubungan yang dalam, intens dan berisi harapan-harapan yang berkelanjutan ke jenjang rumah tangga, bukankah wajah menjadi faktor yang kesekian? Kita mulai mengukur kepribadiannya, pola fikirnya, keluarganya dan pendiriannya, bahkan jika perlu kadar romantisnya.
Untuk sementara, kesampingkan faktor wajah! Pribadi dan pendirian seorang lelaki yang bisa memberi rasa damai, aman serta penghargaan, yang lebih kita butuhkan dibanding \'selembar\' wajah. Apalagi jika ketampanan itu tak memancarkan keteduhan dan perlindungan serta pribadi yang kokoh.
Pertanyaannya kemudian adalah, adakah anda merasa lebih memerlukan kerupawanan wajah untuk dibanggakan meski ia tidak memiliki pribadi yang berarti buat anda. Atau kepribadian dan pendirian seorang lelaki yang utuh, yang meneduhkan yang memungkinkan bisa selamanya dibanggakan. Hal ini sebenarnya bukan masalah yang sulit bagi kita, jika ukuran kita adalah hubungan yang didasari oleh perasaan perlu akan kedamaian, ketenangan, penghargaan, dan tentu saja kecerdasan.
Jika ukuran hubungan anda adalah beberapa faktor di atas, lupakanlah kekaguman pada wajah, dan raihlah pribadi yang tak menyembunyikan pesona batiniahnya dalam seraut wajah. Apalagi kita tahu, semua yang terhampar dalam wajah hanya akan terlihat bersinar tidak lebih dari duapuluh tahun. Tetapi kepribadian seseorang yang utuh, setidaknya bertahan lebih dari itu. Jadi, silahkan pilih... (bay/Ingatan)

Read More...

Pelajaran Dari Negeri Yang Hilang


Tegak rumah karena sendi, Runtuh sendi rumah binasa, Sendi bangsa ialah budi, Runtuh budi runtuhlah bangsa.


Pantun Melayu yang sudah berumur ratusan tahun lalu itu mengingatkan kita akan peran budi pekerti suatu bangsa. Bangkit dan runtuhnya suatu bangsa tercermin dari budi bangsa tersebut. Dalam Al Qur'an banyak dikisahkan bermacam bangsa yang pernah memegang peradaban dan mencapai puncak kejayaan, namun tidak bisa bertahan dan akhirnya runtuh. Lihatlah contoh bangsa A'ad, Tsamud, Romawi, Persia dan lain sebagainya. Bangsa-bangsa ini pernah berjaya, namun karena rusaknya moral individu dan bangsa, runtuh juga kejayaan bangsa-bangsa tersebut.
Negeri-negeri Islam pun pernah mengalamami kejayaan. Sejarah telah mencatat bagaimana negeri-negeri Islam pada masa kekuasaan Bani Umayyah, Bani Abbasyiah, Turki Utsmani telah berabad-abad memegang peradaban dunia. Begitu juga di Nusantara ini dengan puluhan kerajaan Islam. Namun semuanya itu berakhir, karena rusaknya moral (akhlak) pemimpin dan (juga) sebagian rakyatnya.
Runtuhnya negeri-negeri yang disebutkan di atas menjadi tanda bahwa budi pekertilah yang memegang peran dalam kehidupan bernegara. Bila budi di negeri tersebut rusak, rusaklah negeri tersebut. Untuk memperbaiki semua, itulah sebab kenapa Allah SWT mengutus pada tiap-tiap masa seorang Nabi dan Rasul.
Demikian juga halnya dengan Rasul kita Muhammad SAW. "Aku diutus tidak lain hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti". Sabdanya itu dengan tegas menjelaskan maksud kedatangannya ke alam dunia ini. Kepadanya diturunkan Tuhan kitab Al Qur'an. Dan tujuan kitab itupun dijelaskan, yaitu membenarkan kandungan dan tujuan dari kitab-kitab yang diturunkan kepada Rasul-Rasul sebelumnya. Dijelas dalam Al Qur'an bagaimana Tuhan memberikan tuntunan-Nya kepada manusia, supaya manusia itu mencapai setinggi-tinggi budi dan setinggi-tinggi tujuan hidup, yaitu ketaqwaan kepada Allah SWT.
Sebelum Al Qur'an itu disampaikan kepada orang lain, Rasulullah sendirilah yang terlebih dahulu mengamalkannya. Aisyah yang menyaksikan kehidupan Rasulullah SAW setiap harinya mengatakan, "Akhlak Nabi SAW itu ialah Al-Qur'an". Nabi Saw pun dengan tegas mengatakan, "Tuhan sendiri yang membentuk diriku, maka sangat indahlah bentukan-Nya".
Budi Al Qur'an itulah yang telah menjadikan suatu ummat dan bangsa menjadi besar, yang berkumandang suaranya dibawah kolong langit ini, ke Timur, ke Barat, ke Utara dan ke Selatan, menegakkan suatu negara, dan peradaban yang diakui sebagai rantai emas yang gilang gemilang dalam peradaban manusia. Sehingga Allah SWT berfirman: "Bahwasanya bumi ini akan Kami wariskan kepada hamba Kami yang sudi melakukan amal yang mulia".
Dan siapakan yang memungkiri sejarah bangsa-bangsa yang hilang, baik di Barat atau di Timur, sejak bangsa Yunani dan Romawi kuno sampai kepada kaum Muslimin yang telah mencapai puncak kejayaan? Bagaimana mereka sampai mengalami keruntuhan dan kehancuran? Bukankah setelah budi (moral) mereka merosot jatuh? Inilah Hukum Allah, Sunnatullah yang tidak dapat diubah.
Bangsa Indonesia khususnya dan kaum Muslimim umumnya yang saat ini sangat terpuruk dibawah cengkeraman bangsa barat harus bangkit kembali. Bangunlah kaum muslim kembali, insaflah akan keruntuhan selama ini, kembalilah kepada budi Al Qur'an. Firman Allah SWT: "Ikutilah jalanKu, jangan kamu ikuti jalan yang lain, engkau akan terpecah belah kalau itu juga engkau turutkan".
Itulah tujuan kemanusian yang paling tinggi, tegaknya budi pekerti. Hidup berbudi itulah tujuan kita.
Diribut tunduklah padi, Dicupak Datuk Temenggung, Hidup kalau tidak berbudi, Duduk tegak ke mari canggung.

Read More...

Wanita Dicipta Untuk Dilindungi


Allah SWT tidak menciptakan wanita dari kepala laki-laki untuk dijadikan atasannya. Tidak juga Allah SWT ciptakan wanita dari kaki laki-laki untuk dijadikan bawahannya. Tetapi Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lenganya untuk dilindunginya, dan dekat dengan hatinya untuk dicintainya.

Allah tidak menciptakan wanita sebagai komplementer atau sebagai barang substitusi apalagi sekedar objek buat laki-laki. Tetapi Allah menciptakan wanita sebagai teman yang mendampingi hidup Adam tatkala kesepian di surga. Juga Allah ciptakan wanita sebagai pasangan hidup laki-laki yang akan menyempurnakan hidupnya sekaligus sebab lahirnya generasi, disamping tunduk dan beribadah kepada Allah tentunya.
Tetapi mengapa tetap saja ada laki-laki yang tunduk di bawah kaki wanita. Mengemis cintanya, berharap kasih sayangnya dengan menggadaikan kepemimpinan, bahkan kehormatan dan harga dirinya.
Wanita dipuja bagai dewa, disanjung bagai Dewi Shinta, yang banyak menyebabkan laki-laki buta mata, buta telingga, bahkan buta mata hatinya. Namun ada juga yang menganggap rendah wanita. Wanita dinista, dihina. Kesuciannya dijadikan objek yang tidak bernilai harganya. Tenaganya dieksploitasi bagaikan kuda. Kelembutannya dijadikan transaksi murahan yang tak seimbang valuenya.
Wanita dijadikan sekedar pemuas nafsu belaka, bila habis madunya, dengan seenaknya di buang ke keranjang sampah, atau dianggap sandal jepit yang tak berguna.

Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita melihat mereka menjajakan diri di gelapnya malam yang mencekam. Relakah kita melihat mereka membanting tulang mengumpulkan ringgit atau real dengan mayat terbujur kaku sebagai resikonya?
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita membiarkannya seperti seonggok jasad hidup yang tidak memiliki nilai guna?
Jika wanita itu adalah ibu kita, kakak atau adik perempuan kita, dan anak kita, relakah kita membiarkannya beringas, liar, ganas, tidak berpendidikan, bodoh, dunggu, hanya karena ketidakmampuan ayah memberi nafkah, karena ketidakmampuan kita medidik dan mencintainya, karena ketidakmampuan kita melindunginya, sebagaimana Allah menciptakan wanita dari tulang rusuk laki-laki, dekat dengan lengannya untuk dilindunginya, dekat dengan hatinya untuk dicintainnya.
Ia tetap wanita, yang diciptakan Allah SWT dengan segala kelebihan dan kekuranganya. Tidak bisa manusia dengan akalnya yang kerdil ini mengganti kedudukannya apa lagi fitrahnya.
Ia bagaikan sekuntum bunga terpelihara, tidak semua kumbang bisa menghisap madunya. Lemah lembutlah dalam memperlakukannya, karena kalau tidak, ia bisa seganas srigala.

Read More...

Wanita: Antara Idealisme, Emansipasi dan Karir


Salah satu masalah yang tidak pernah tuntas didiskusikan adalah wanita, ia menjadi isu sosial yang menarik sejak zaman dahulu, sekarang dan masa yang akan datang. Masalah itu tetap tidak akan tuntas, karena wanita telah diperlakukan dan memperlakukan dirinya tidak sesuai dengan fitrah mereka, wanita di hinakan, dipuja dan tuntutan kesetaraan disegala bidang yang sering dikenal dengan istilah emansipasi dan karirisasi tidak pernah menemukan titik temu dengan hukum Allah.
Beragam Pandangan Tentang Wanita

Dalam sejarah perjalanan umat manusia, sikap ambivalen terhadap posisi wanita tidak pernah berakhir. Hal ini merupakan provokasi dari kaum sekular, pemahaman salah dari agama -agama ghairul islam (non Islam) filsafat serta kepentingan politik.
Di salah satu pihak mereka sangat menghinakan wanita dengan mengatakan sabar yang terpaksa, angin yang jahat, maut, neraka jahim, ular berbisa, dan api tidaklah lebih berbahaya dari pada wanita, hal ini merupakan pandangan agama Hindu terhadap wanita. Wanita dianggap makhluk yang berbahaya melebihi ular berbisa. Agama Yahudi tidak memberikan tempat terhomat kepada wanita, dalam pandangan agama ini wanita tidak mempunyai hak kepemilikan, hak waris, makhluk yang terkutuk.
Selanjutnya agama Kristen tidak kalah memandang hina terhadap wanita, seperti yang dikatakan pendeta Paus Tertulianus, “Wanita merupakan pintu gerbang syeitan, masuk ke dalam diri laki-laki untuk merusak tatanan Ilahy dan mengotori wajah Tuhan yang ada pada laki-laki.” Sedangkan Paus Sustam mengatakan, “Wanita secara otomatis membawa kejahatan, malapetaka yang mempunyai daya tarik, bencana terhadap keluarga dan rumah tangga, kekasih yang merusak serta malapetaka yang menimbulkan kebingunggan.”
Rata-rata agama non Islam tersebut hanya memandang wanita sebagai seonggok jasad yang siap menghancurkan laki-laki, mereka tidak menghormati wanita, padahal mereka lahir dari rahim para wanita, benar-benar aneh!!!.
Di sisi lain wanita sangat didewakan, disanjung dan dipuja, namun hanya sebatas pemuasan dahaga dan nafsu seksual kaum laki-laki saja. Walaupun mendapatkan kedudukan “terhormat” dan kebebasan atas hak asasinya, namun tetap saja wanita mengalami kesengsaraan, karena wanita dihormati hanya sebatas kemolekan tubuh dan masalah seksual belaka, yang pada akhirnya meraka tetap beranggapan wanita hanyalah sebagai sampah, habis manis sepah dibuang.
Lain halnya dalam pandangan agama Islam, laki-laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama. Keduanya mendapat pahala yang sama di sisi Allah sesuai dengan tingkatan iman dan amal yang mereka lakukan, hal ini dikatakan Allah dalam surat Al-Mukmin ayat 40, “Barang siapa yang beramal sholeh baik laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka beriman, maka mereka akan masuk surga dengan tiada terhingga.”
Islam menjunjung tinggi derajat wanita, ia ditempatkan pada posisi yang sangat terhormat di dunia ini, tidak ada yang boleh menghinakannya karena dalam hadis telah dikatakan “Syurga itu terletak di bawah telapak kaki ibu” (HR. Ahmad), Bahkan Rasul mengatakan wanita itu lebih berharga dari keindahan seluruh isi alam ini, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah.” (HR. Muslim).
Untuk menjaga kesucian serta ketinggian derajat dan martabat kaum wanita, maka dalam kehidupan sehari-hari Islam memberikan tuntunan dengan ketentuan hukum syariat yang akan memberikan batasan dan perlindungan bagi kehidupan wanita, semuanya itu untuk kebaikan wanita, agar tidak menyimpang dari apa yang telah digariskan Allah terhadap dirinya, semuanya merupakan bukti bahwa Allah itu Ar-Rahman dan Ar-Rahim terhadap seluruh hamba-hamba-Nya.
Propaganda Emansipasi dan Karirisasi
Gerakan emansipasi tumbuh sejak awal abad XX. Anehnya propaganda gerakan ini justru munculnya dari laki-laki dan hanya terdapat sedikit saja wanita. Awalnya emansipasi hanyalah seruan kepada pemerintah untuk memperhatikan kesempatan pendidikan akademis bagi wanita. Seruan ini cukup mendapat simpati karena aktivitasnya mengarah kepada peningkatan kecerdasan, keleluasaan generasi baru yang lebih cakap dan berkualitas.
Namun seiring perkembangan zaman mereka tidak saja menyerukan pentingnya mendapatkan pendidikan, tapi dengan berkedok emansipasi mereka mulai meneriakkan persamaan derajat, kebebasan, peningkatan karier di segala bidang (karirisasi). Terjadilah gerakan besar-besaran untuk mendapatkan kesempatan agar bisa tampil di luar, bekerja dan melakukan aktivitas apa saja layaknya laki-laki. Dengan alasan wanita yang tinggal di rumah adalah wanita yang terpasung eksistensi dirinya, tidak menunjang usaha produktivitas, wanita secara intelektual sama dengan laki-laki, dengan hanya menjadi ibu rumah tangga dianggap wanita kehilangan partisipasi dalam masyarakat.
Mereka meneriakkan emansipasi dan karirisasi. Karena bagi mereka apa yang dikerjakan laki-laki dapat pula dikerjakan oleh perempuan. Mereka menyamakan segala hal antara laki-laki dan perempuan, padahal kita tidak dapat menutup mata ada hal-hal mendasar -mungkin mereka lupa- tidak akan mungkin dapat disamai.
Wanita karier, begitu kita sering mendengar istilah ini. Disebut wanita karier karena dalam sehari-hari mereka berjejel di lapangan kerja yang seharusnya menjadi pekerjaan laki-laki. Ciri-ciri wanita karier ini menurut seorang penulis di Inggris adalah, mereka tidak suka berumah tangga, tidak suka berfungsi sebagai ibu, emosinya berbeda dengan wanita non karier, dan biasanya menjadi wanita melankolis.
Disadari ataupun tidak, timbul dilema baru dalam dirinya dan kemelut berkepanjangan di dalam masyarakat. Mereka harus bekerja banting tulang untuk mencari nafkah yang seharusnya merupakan tugas laki-laki. Laki-laki menjadi kehilangan kesempatan pekerjaan karena diserobot wanita karier, hal ini menimbulkan masalah psikologis tersendiri bagi laki-laki.
Informasi mengenai gerakan emansipasi dan karirisasi mendapatkan porsi publikasi politis dan bisnis secara besar-besaran. Oleh karena itu bagi mereka yang dicurigai menghalangi gerakan emansipasi disebut sebagai diskriminasi gender. Biasanya agama sering dijadikan kambing hitam sebagai media yang menghalangi gerakan tersebut, bahkan ada yang berani menghujat agama Islam merupakan agama yang mengekang kemajuan wanita.
Dan anehnya mereka yang mengaku muslim tidak sedikit yang menunjukkan perlawanan terhadap aturan syariat yang di buat Allah. Aneh memang, padahal sudah jelas-jelas tanpa Islam, wanita tidak akan pernah maju, dulu, sekarang dan masa yang akan datang. Bisa dibandingkan bagaimana Islam menempatkan wanita pada posisi yang sangat terhormat, sedangkan agama lain, apa yang ia katakan terhadap perempuan, mereka hanya menganggap perempuan sebagai keranjang sampah, hina dan menyesatkan.
Seharusnya kita jujur, tanpa kedatangan Islam wanita tidak akan pernah seperti sekarang. Lalu masihkan kita berani mengatakan Islam menyebabkan wanita-wanita terbelakang? Sungguh pemikiran bodoh yang tidak memiliki dasar sama sekali.
Wanita Bekerja, Why Not?
Nyonya Jane Martan Seasih Duta Besar Gresia untuk PBB mengatakan “Melahirkan adalah fungsi utama seorang wanita, wanitalah yang menangani pendidikan anak-anaknya.” Memang sudah fitrahnya wanita memiliki empat keistimewaan yang tidak dimiliki laki-laki, haid, hamil, melahirkan, menyusui. Kempat fungsi ini mempengaruhi sifat dan tingkah laku wanita dalam masyarakat. Fungsi ini tidak akan bisa digantikan oleh laki-laki, namun ada pekerjaan laki-laki sekarang yang banyak digantikan oleh wanita, yaitu mencari nafkah.
Dalam perspektif Islam wanita tidak dibebani mencani nafkah, baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain, yang bertanggung jawab adalah ayahnya jika ia belum berkeluarga, suaminya jika ia telah berkeluarga, saudara laki-laki dan pamannya jika ayah dan suaminya tidak ada. Dispensasi ini akan memberikan peluang kepada wanita untuk dapat mendidik anak-anaknya, mengurus suaminya, sehingga dapat dilindungi dari pelecehan atau penistaan.
Namun wanita bekerja dan mendapatkan penghasilan untuk membantu meringankan beban keluarga bukanlah sesuatu yang haram. Pada prinsipnya Islam mengarahkan kaum wanita supaya dalam bekerja harus mengutamakan tugas fitrahnya, yaitu mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anaknya agar kelak dapat dipersiapkan menjadi penerus risalah yang dibawa Rasul.
Ia tidak melanggar fitrah dan syariat yang telah ditetapkan, hendaklah ia tetap menjaga kehormatan keluarga, sehingga tidak muncul peluang bagi kerusakan moral dan tersebarnya fitnah terhadap wanita di tengah masyarakat.
Adapun pekerjaan yang dilakukan itu hendaknya memenuhi syarat-syarat berikut, pekerjaan yang dilakukan benar-benar membutuhkan penanganan dan sesuai fitrah wanita, misalnya dokter kandungan, perawat, guru, dosen. Dalam pelaksanaanya, tidak bercampur baur dengan laki-laki. Jam kerja yang dilakukan tidak melebihi kewajiban pokoknya mengurus keluarga. Syarat lainya adalah adanya persetujuan dari ayah, suami atau saudara laki-laki yang bertanggungjawab terhadap wanita tersebut.
Dengan memperhatikan aturan tersebut, wanita tetap dapat menjaga jati dirinya sebagai hamba Allah yang shalihah. Ia tidak akan melanggar syariat dan fitrah dirinya. Ia akan tetap menjaga harkat dan matrabat diri dan keluarganya, sehingga kemampuan dan ilmu yang ada pada dirinya dapat bermanfaat untuk orang lain, ia pun dapat membantu meringankan beban keluarga tanpa harus mengorbankan harga dirinya.

Read More...

Kamis, 08 April 2010

Tebar Pesona di Dunia Maya


Bisa dipastikan, kecenderungan setiap chatter (para pengguna fasilitas chat) adalah menyembunyikan identitas aslinya, hal itu terlihat dari nickname yang mereka gunakan sebagai identitas awal mereka. Namanya bisa terkesan sangat asing atau tidak sedikit yang kadang konyol bahkan mengada-ada. Co-keren, co-cute, barbiegirl, ce-manis, whitesoul dan lain-lain adalah sedikit contoh dari jutaan nickname yang biasa mangkal di berbagai chatroom.

Sudah menjadi sifat manusia untuk tidak percaya dengan orang lain, terlebih yang baru dikenalnya. Itulah salah satu alasan kenapa para chatter cenderung menyembunyikan identitas aslinya. Tidak hanya pada nama, bahkan informasi yang berkenaan dengan usia, tempat tinggal (lokasi), pekerjaan dan tempat kerja, sampai --ini yang paling sering dirahasiakan-- marital status!
Sikap kehati-hatian yang menjadi alasan awal untuk menyembunyikan identitas itu kemudian berlanjut dalam obrolan berikutnya, selanjutnya dan seterusnya. Bisa dikatakan, karena awalnya sudah memalsukan identitas -kalau tidak terlalu kasar untuk disebut berbohong- maka jawaban-jawaban atau pernyataan seterusnya akan cenderung palsu juga. Uniknya, meski para chatter seolah sudah saling mengerti bahwa masing-masing lawan bicara cenderung 'omong palsu' karena mereka pun melakukan hal yang sama, para chatting mania itu ternyata sangat menikmati obrolan (palsu) tersebut.
Maka tidaklah mengherankan jika chatting kemudian berkembang menjadi suatu arena 'tebar pesona' diantara para penggunanya. Mulai dari atraksi intelektual, untaian kata indah menyentuh hati (biasanya dilakukan terhadap lawan jenis) hingga rayuan gombal pun tidak lepas menghiasi layar monitor anda. Meski demikian tidak semua chatroom berisi hal-hal penuh kepalsuan dan juga para chatter yang cenderung berbohong, karena tentu masih ada chatroom-chatroom yang lebih mengkedepankan aspek-aspek dialog bermanfaat dengan para chatter yang juga melakukan chatting dengan tujuan yang relatif lebih jelas, lebih bernas ketimbang sekedar tebar pesona atau curhat-curhatan. Untuk kelompok yang satu ini, bahkan mereka tidak segan-segan keluar dari chatroom jika pembicaraan sudah mengarah kepada hal yang sia-sia dan kurang bermanfaat.
'Pacaran' di Dunia Maya
Sebuah situs Islam lokal di Indonesia yang menyediakan fasilitas konsultasi dan tanya jawab seringkali mendapatkan email-email dengan pertanyaan yang hampir sama, seperti, "bolehkah ta'aruf dengan lawan jenis melalui internet/chatting?" atau bahkan "apa hukumnya mencari pasangan hidup dari hasil chatting?"
Bahkan ada netters yang terang-terangan mengakui bahwa dirinya lebih 'pede' (percaya diri) melakukan obrolan melalui chatting atau email daripada harus bertemu langsung. Di kalangan pemuda-remaja muslim, chatting dianggap sebagai wadah yang lebih 'safety' untuk melakukan silaturahim atau berdiskusi ketimbang harus bertatap muka dengan resiko berkhalwat. Maka dengan anggapan yang bisa dibilang terburu-buru itu, maraklah chatroom-chatroom itu dipenuhi oleh para muslim-muslimah. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang notabenenya berlabel aktifis.
Pada satu sisi, kemajuan teknologi memang tidak dapat dibendung lajunya dan sebagai muslim yang juga ingin maju sudah tentu tidak ingin ketinggalan dalam mengikuti perkembangan dan trend teknologi terbaru jika tidak ingin disebut 'gaptek' atau gagap teknologi. Namun disisi lain tanpa disadari telah menggeser sedikit demi sedikit norma-norma pergaulan yang awalnya menjadi sesuatu yang tabu dilakukan antar lawan jenis. Misalnya, yang biasanya 'tidak berani' berbicara langsung dengan alasan menundukkan pandangan dan menghindari berkhalwat, kini bebas ber 'haha-hihi' di ajang chatting meski satu sama lain belum betul-betul saling mengenal.
Tidak sampai disitu, dari mulai mentertawakan bersama hal-hal yang lucu yang muncul dari barisan kata-kata di layar monitor sampai pengungkapan identitas diri yang sebenarnya, memberikan jawaban-jawaban atau solusi atas setiap permasalahan teman bicaranya, yang kesemuanya masuk dalam skenario tebar pesona para chatter, dimana hal itu tidak berani mereka lakukan di dunia nyata dengan alasan tidak 'pede' karena berbagai kekurangan fisik dan nonfisik yang dimilikinya, muncullah benih-benih harapan baru bahwa ingin menjadikannya lebih dari sekedar teman bicara atau berdiskusi. Ajaib memang, manusia-manusia yang selama ini mengalami gejala inferiority, internet mampu menyulapnya menjadi manusia superior yang penuh percaya diri, setidaknya selama ia masih berada di dunia maya.
Jadilah hari-hari selanjutnya penuh pesona bunga merona cinta. Ayunan jari jemari diatas tuts keyboard seakan menjadi saksi betapa mereka sedang dibuai asa merenda masa depan. Barisan kata-kata yang tertuang di layar monitor mulai terukir indah penuh makna, perhatian bahkan kasih sayang dan cinta. Setelah itu, timbullah keinginan untuk copy darat, istilah para chatter untuk melakukan pertemuan atau tatap muka secara langsung untuk mengakhiri rasa penasarannya selama ini akan wujud asli dari si pembuai maya.

Ups! Sampai disini hati-hati karena bisa jadi tanpa disadari anda sudah melakukan zina hati. Jika chatting yang anda lakukan sudah mengarah kepada hal-hal yang tidak ada bedanya dengan layaknya orang berpacaran, seperti mengumbar pesona untuk menarik hati, memberikan perhatian yang berlebihan yang belum sepantasnya anda lakukan, memberikan atau menaruh harapan yang berlebihan akan cinta dan cita masa depan.
Bukan berarti juga ada larangan melakukan chatting untuk tujuan ta'aruf pra nikah. Hanya saja masalahnya, hal itu tidak dikondisikan dan dikomunikasikan sedemikian baik dan terjaga dari permainan hati yang bisa jadi syaitan bermain di dalamnya (na'udzubillaahi min dzalik).
Jika kita bisa berbicara (soal hati dan kecenderungan terhadap lawan jenis) dengan kadar yang sewajarnya, dengan hati yang tetap terjaga dari kemungkinan munculnya hasrat yang cenderung kepada nafsu, dengan sikap dan kata-kata yang tidak akan merusak dan menghilangkan hakikat tujuan dari ta'aruf dan ukhuwah itu sendiri serta tidak malah terjebak pada permainan kata-kata perhatian (taushiah) berselubung cinta, tentu masih bisa dibenarkan. Namun masalahnya, seberapa dari kita yang benar-benar siap dan sanggup melakukan hal tersebut. Dan jika secara jujur dalam hati ini merasa berat, sebaiknya hindari dan lebih baik memilih lawan bicara yang sejenis untuk lebih menjaga hati tetap bersih. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Read More...

Menikah, Tunda Sebelum ...


Menikah? Mungkin hanya orang-orang yang mempunyai alasan yang sangat khusus saja yang tidak ingin menjalaninya. Sebagai manusia, menikah adalah sesuatu yang fitrah yang sudah digariskan Allah karena memang manusia memiliki kecenderungan terhadap setiap lawan jenisnya. Fase itu seolah menjadi sesuatu yang "wajib" dilalui pada batas usia tertentu (baligh) guna mendapatkan ketenangan hidup, kasih sayang bahkan rahmat Allah.

Rasulullah Muhammad saw pun dengan tegas mengatakan, bahwa bukan menjadi bagian ummatnya orang-orang yang membenci nikah, karena menikah adalah sunnahnya. Sungguh luar biasa ajaran yang dibawa Nabi Allah tersebut, disatu sisi Islam melarang ummatnya untuk mendekati zina, namun disisi lain sangat menganjurkan untuk menyegerakan menikah sebagai langkah tepat menjaga kesucian diri. Bahkan Allah pun masih memberikan toleransi bagi ummat-Nya untuk melakukan polygami jika memang hal tersebut menjadi satu-satunya solusi bagi permasalahan yang menyangkut urusan seksual seorang laki-laki, meski dalam hal ini mesti digarisbawahi bahwa masih dalam koridor menuju kesempurnaan taqwa dan kebersihan diri.
Namun pada kondisi seperti sekarang ini, saat perbandingan laki-laki jauh lebih banyak dari jumlah kaum hawa, saat semakin sulitnya mencari laki-laki sholeh yang tetap teguh dengan akhlaq mulianya di zaman serba modern ini, saat lebih semakin sulitnya menemukan laki-laki yang memiliki komitmen perjuangan dan pembelaan terhadap Islam yang begitu tinggi, sangatlah mungkin menumbuhkan perasaan "risau" direlung-relung hati para muslimah yang juga senantiasa memperbaiki akhlaq dan meningkatkan ketaqwaan kepada Rabb-nya. Sementara dalam benak dan khayal mereka, laki-laki pejuang dan pembela agama Allah-lah yang sangat menjadi dambaannya sebagai teman dalam mengarungi bahtera rumah tangga.
Karena nyatanya, diseperempat abad usianya, belum satupun datang menghampiri, meski ribuan lainnya mungkin begitu berharap kepada gadis cantik, berakhlaq baik, terpelajar yang sangat komitmen dengan agamanya. Namun dengan kelembutannya, ia menolaknya karena alasan kebersamaan perjuangan yang lebih diutamakannya. Nyatanya juga, dikematangan berpikir dan kedewasaan bersikapnya, belum juga seorang pun memberanikan diri menyatakan kesiapan membangun mahligai taqwa berdua menuju kesempurnaan beragama.
Meski janji Allah tidak teragukan lagi, bahwa laki-laki baik untuk wanita-wanita baik dan laki-laki tidak baik untuk wanita tidak baik pula. Meski meski disisi lain, Allah kerap menguji keberimanan hamba-Nya dengan ujian yang memberikan hikmah kesabaran bagi yang mampu melewatinya. Namun disinilah hakikat penciptaan hati manusia yang mudah dibolak-balikkan. Bahwa manusia kadang tetap teguh dengan keberimanannya meski ujian seberat apapun menggelayutinya, namun sepersekian detik berikutnya hatinya bisa begitu mudah terguncang oleh cobaan yang lain, terlebih cobaan yang berkaitan dengan hal-hal yang berdekatan dengan emosi seperti, orang tua, jodoh dan lain-lain.
Hal itu terbukti dari sekian banyaknya wanita-wanita muslimah yang begitu resah dan galau hatinya saat-saat memasuki usia pernikahan karena belum tergambarkan sesosok bayangan pun mengenai calon pendamping. Sementara usia terus merambat naik, seolah sosok bayangan itu terasa semakin menjauh dan terbang menghilang. Pada fase inilah terkadang banyak muslimah yang 'menggadaikan' kesholehahannya untuk 'ditukar' dengan laki-laki yang jauh dari harapannya saat masih menjadi aktifis dahulu. "Yang biasa aja harus nunggu kepala tiga dulu, apalagi yang luar biasa" komentarnya. Ini memang fase yang amat rentan bagi seorang muslimah, namun disinilah fase pembuktian muslimah-muslimah yang konsisten dan yakin akan janji Allah.
Khawatir, galau, gundah, resah dan segenap perasaan ketakutan tidak mendapatkan jodoh memang sangat peka dirasakan oleh kalangan muslimah, terlebih saat usia memasuki dasawarsa kedua. Karena bisa jadi -pikir mereka- semakin tambah usia mereka, semakin kecil probabilitasnya karena jumlah laki-laki belum menikah yang seumur mereka disinyalir terus berkurang. Saat seperti ini pulalah yang kemudian secara tidak disadari memindahkan fokus perhatian tidak sedikit para muslimah, dari ghirah meningkatkan ketaqwaan memperbaiki kualitas diri menjadi semangat mencari pasangan hidup. Padahal, sangat berbanding lurus antara peningkatan kualitas diri dengan peluang mendapatkan jodoh yang berkualitas.
Bicara soal kualitas, perlu kiranya memperhatikan kembali hal-hal yang mungkin belum ditingkatkan oleh para muslimah berkenaan dengan soal kesiapan mengarungi rumah tangga. Karena tentu saja, -ini yang sering dilupakan- yang menentukan kesiapan bukan hanya kita yang seringkali hanya melihat segi zahir saja, seperti usia dan materi. Padahal Allah-lah sang penentu utama kesiapan seseorang dalam memasuki jenjang rumah tangga. Sangat bisa, Allah menetapkan kita dalam status tidak memiliki persiapan apa-apa meski secara usia sudah lebih dari cukup dan materi juga tidak ada masalah.
Sudahkah kita berusaha meningkatkan kesabaran seperti dicontohkan Rahmah istri Nabi Ayub alaihi salam. Ia begitu sabar dan ikhlas hidup dalam kesengsaraan dan penuh kehinaan bersama sang suami, karena baginya kebahagiaan dalam kemuliaan dimata Allah-lah yang menjadi tujuannya.
Sudahkah kedewasaan dan kematangan bersikap kita diupayakan seperti kedewasaan Siti Khadijah, istri pertama Rasulullah saw. Meski harta berlimpah ditangan, tidak membuatnya sombong terhadap suami yang berpenghasilan kecil. Kelebihan usia juga bukan alasan untuk tidak patuh dan tidak hormat kepada suami.
Sudahkan kecemerlangan berpikir Aisyah radiallahu anha menjadi pelajaran bagi kita untuk dicontoh. Laki-laki, biasanya selalu bersikap rasional. Maka, yang diinginkannya pula dari pasangannya adalah hal-hal yang rasional, masuk akal. Istri yang cerdas dan mampu mengiringi pembicaraan dalam setiap diskusi tentu akan lebih menyenangkan bagi sang suami. Oleh karena itu, meningkatkan kualitas ilmu dan wawasan (dengan banyak membaca misalnya) menjadi sesuatu yang perlu dilakukan pada masa-masa pranikah.
Sudahkah sifat-sifat penyayang dan pelindung seperti yang diajarkan Asiyah istri Fir'aun kita usahakan terpatri menjadi bagian dari sifat kita. Sehingga, suami pun tidak akan merasa salah dalam menjatuhkan pilihannya kepada anda karena dia akan menemukan kehangatan kasih sayang itu pada diri anda. Tentu tidak hanya suami, kelak anak-anak kita pun besar dalam buaian kehangatan dan perlindungan ibu semacam Asiyah ini.
Sudahkah juga, semangat pengorbanan tertanam dalam diri ini seperti Nusaibah binti Ka'ab yang mempersembahkan suami dan anak-anaknya untuk perjuangan membela agama Allah.
Memang sulit untuk menyamai keteladanan Rahmah, Khadijah, Aisyah, Asiyah, Nusaibah dan juga berbagai karakter utama dari banyak sahabiah lainnya. Setidaknya semua itu menjadi contoh kepada kita, bahwa dengan keteladanannya itu mereka mampu membahagiakan suami-suami mereka.
Namun bukan berarti saudara-saudara muslimah yang sudah menikah juga sudah lebih baik kualitasnya dan sudah memiliki keteladanan yang mendekati dari para sahabiah itu, sehingga mereka diberikan kesempatan oleh Allah untuk 'lebih dulu' berjodoh. Bagaimana dengan fenomena pertengkaran rumah tangga dan perceraian yang juga banyak melanda para aktifis pengajian?
Tentu disinilah letak keadilan Allah. Dia seolah menunjukkan kepada hamba-Nya yang belum menikah tentang sebab-sebab keretakan rumah tangga, yang antara lain karena rendahnya kualitas diri yang dimiliki sebelum memasuki bahtera rumah tangga. Termasuk juga, Allah tunjukkan kepada para muslimah, betapa laki-laki, makhluk yang kelak menjadi pendamping hidupnya, juga bukan makhluk sempurna. Bukan tidak mungkin mereka lah yang menyebabkan istri-istrinya kehilangan kesabaran dengan ulahnya yang menyakitkan. Atau membuat sang istri menjadi orang-orang yang sombong karena memanjakannya dengan harta. Suami juga bisa sangat berperan dalam upaya pembodohan istri, ketika mereka juga bukan type manusia pembelajar atau bahkan melarang istrinya meningkatkan keilmuan dan wawasannya. Wallahu a'lam bishshowab (Bayu Gautama)

Read More...

Tiga Tipe Perempuan: Yang Mana Tipe Anda?


Islam tentu sangat memperhatikan kaum perempuan, dimana hal tersebut tidak berlaku dalam ajaran-ajaran sebelum kedatangan Islam. Posisi perempuan begitu penting (dipentingkan) sehingga sering terdengar suatu ungkapan bahwa tegaknya suatu negara (kelompok) sangat tergantung dengan perilaku perempuan dalam kelompok tersebut. Mungkin ada yang menganggap ini berlebihan, meski tidak bisa dipungkiri bahwa peran perempuan sangat berdekatan dengan kesuksesan dan juga kegagalan!

Dalam ajaran Islam, laki-laki dan perempuan tidak dibedakan peranannya dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Keduanya memiliki kesempatan yang sama dalam berusaha berbuat yang terbaik bagi diri, keluarga dan masyarakatnya. Jelasnya, Alqur'an tidak membedakan perlakuan terhadap laki-laki dan perempuan. Beberapa ayat menjelaskan hal tersebut:
"Barangsiapa yang melakukan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia mukmin, mereka akan masuk surga ..." (QS. 4:124, 40:40)
"Barangsiapa beramal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan ia mukmin, kami hidupkan dia dalam kehidupan yang baik ..." (QS. 16:97)
"Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beriman diantara kamu, baik laki-laki maupun perempuan ..." (QS. 3:195)
"Tidaklah boleh bagi mukmin laki-laki dan perempuan merasa keberatan bila Allah telah memutuskan sesuatu perkara ..." (QS. 33:36)
"Orang-orang beriman laki-laki dan perempuan satu sama lain saling melindungi. Mereka sama-sama menyuruh kebaikan dan melarang kemungkaran, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah menyayangi mereka ..." (QS. 9:71)
Begitu gamblangnya Al Qur'an memperhatikan makhluk perempuan, selain ayat-ayat diatas yang menunjukkan tidak adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan dalam hubungannya dengan pekerjaan, amal dan tindakan, Al Qur'an juga memberikan kepada kita penjelasan tentang beberapa tipologi perempuan, dimana bisa dikatakan, bahwa apa yang pernah terjadi pada masa lalu dan diabadikan dalam Al Qur'an agar menjadi pelajaran bagi kaum mukminin yang perempuan khususnya dan laki-laki pada umumnya. Karena, sekali lagi, masalah yang berhubungan dengan perempuan yang terjadi di muka bumi ini, hampir selalu terkait dengan kaum laki-laki.
Oleh karena itu, menjadi penting untuk memperhatikan beberapa tipe perempuan yang pernah diterangkan Allah dalam Al Qur'an. Dimana Al Qur'an secara khusus membicarakan jenis-jenis perempuan berdasarkan amalnya. Untuk jenis perempuan ideal yang patut diteladani, seringkali Al Qur'an menyebut nama jelas. Namun untuk melukiskan perempuan "buruk" Al Qur'an tidak menyebut nama secara langsung.
Tipe pertama adalah type wanita saleh yang diwakili oleh Maryam. Nama Maryam disebut beberapa kali dalam ayat-Nya selain juga menjadi salah satu nama Surat dalam Al Qur'an. Ia adalah type perempuan saleh yang menjaga kesucian dirinya, mengisi waktunya dengan pengabdian yang tulus kepada Rabb-nya. Karena kesalehahannya itulah ia mendapat kehormatan menjadi ibu dari kekasih Allah, Isa alaihi salam, tokoh terkemuka di dunia dan akhirat (QS. 3:45).
"Dan Maryam putra Imran, yang menjaga kesucian kehormatannya. Kami tiupkan roh Kami dan ia membenarkan kalimah Tuhan-Nya dan kitab-kitab-Nya dan ia termasuk orang yang taat" (QS. 66:16).
Maryam adalah tipe perempuan saleh. Kehormatannya terletak dalam kesucian, bukan dalam kecantikan. Tentu masih banyak deretan nama-nama perempuan saleh baik yang tersebut dalam hadits-hadits Nabi maupun dalam sejarah.
Al Qur'an juga menerangkan tipe-tipe perempuan pejuang untuk menjadi contoh bagi para muslimah. Tipe yang kedua ini dicontohkan dengan sempurna oleh Asiyah binti Mazahim, istri Fir'aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya. Semuanya ia lakukan karena ia memilih rumah di Surga, yang diperoleh dengan perjuangan menegakkan kebenaran, ketimbang istana di dunia, yang dapat dinikmatinya bila ia bekerja sama dengan kezaliman. "Dan Allah menjadikan teladan bagi orang-orang yang beriman perempuan Fir'aun, ketika ia berdo'a: Tuhanku, bangunkan bagiku rumah di surga. Selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya. Selamatkan aku dari kaum yang zalim." (QS. 66:11).
Al Qur'an memuji perempuan yang membangkang kepada suami yang zalim. Pada saat yang sama Al Qur'an juga mengecam perempuan yang menentang suami yang memperjuangkan kebenaran, seperti istri Nabi Nuh alaihi salam dan istri Nabi Luth alihi salam. Dalam kaitannya dengan hal ini, Al Qur'an juga menambahkan satu contoh perempuan yang mendukung kezaliman suaminya (sebagai contoh lawan dari Asiyah) yakni, istri Abu Lahab.
Selain Asiyah, ada pula contoh-contoh perempuan pejuang meski suami-suami mereka bukanlah orang-orang zalim, melainkan para pejuang kebenaran. Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abu Bakar, Nusaibah binti Ka'ab, adalah contoh nama-nama yang bersama suami mereka bahu-membahu memperjuangkan agama Allah.
Tipe ketiga yang dijelaskan dalam Al Qur'an adalah tipe perempuan penggoda. Jelas untuk yang satu ini diwakili oleh Zulaikha penggoda Nabi Allah Yusuf alaihi salam. Dalam kisah Zulaikha menggoda Yusuf inilah, Al Qur'an menunjukkan kepandaian perempuan dalam melakukan makar dan tipuan. Manakah tipe anda dari ketiga tipe tersebut? Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama/dari buku: Meraih Cinta Ilahi, Jalaluddin Rakhmat)

Read More...

Yang Jauh Dinanti Yang Datang Ditepis


Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya begitu bersahaja. Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?

Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena alasan-alasan tertentu. Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, "peluangnya lebih besar" meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini, tentu saja Allah penentu akhirnya.
Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya. "Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke" pikirnya. Diusia seperti, ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada orang yang membuat 'joke', salah satu kesibukan mereka adalah "sibuk nolak" terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang ditolak itu sebenarnya juga "nggak rendah-rendah amat kualitasnya", mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.
Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi 'daya tawar' mereka, namun justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.
Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati 'kepala tiga'. Meski tidak bisa dipukul rata, namun tidak sedikit yang 'banting harga' di usia ini. Mereka yang ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya 'idealisme' dan patokan kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, "Asal baik, sholatnya bener okelah". Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, "asal ada yang mau", "nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang ada ini juga bolehlah," atau yang lebih ekstrim, "syukur ada yang mau".
Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih, tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh), jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin. Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, "Hanya soal waktu, disinilah diuji kesabaran", "Mungkin Allah mentakdirkan untuk lebih lama hidup sendiri" hiburnya. Ada pula wanita-wanita yang karena alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.
Namun bagi yang 'masih muda dan belum terlambat', tiada salahnya juga untuk tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya- dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a'lam bishshowaab

Read More...

Rabu, 07 April 2010

Wanita Itu Mutiara ...


Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.
Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.
Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat mengecewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.
Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.
Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.
Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.
Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.
Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadikan seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.
Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak dimata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ‘kebanggaan’ saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.
Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.
Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga … (cintaberdua@hotmail.com)

Read More...

Jangan Takut Bilang Cinta


Tatkala usia terus merangkak naik sementara calon suami tak kunjung datang, segera keresahan mulai melanda. Pada masa-masa yang terbilang cukup rawan ini seringkali tanpa disadari, ada perilaku-perilaku yang mestinya tak layak dilakukan oleh seorang muslimah yang 'kadung' dijadikan teladan dilingkungannya. Ada muslimah yang menjadi sangat sensitif terhadap acara-acara pernikahan ataupun wacana-wacana seputar jodoh dan pernikahan. Atau bersikap seolah tak ingin segera menikah dengan berbagai alasan seperti karir, studi maupun ingin terlebih dulu membahagiakan orang tua. Padahal, hal itu cuma sebagai pelampiasan perasaan lelah menanti jodoh.

Sebaliknya, ada juga muslimah yang cenderung bersikap over acting. terlebih bila sedang menghadiri acara-acara yang juga dihadiri lawan jenisnya. Biasanya, ia akan melakukan berbagai hal agar “terlihat”, berkomentar hal-hal yang tidak perlu yang gunanya cuma untuk menarik perhatian, atau aktif berselidik jika mendengar ada laki-laki shaleh yang siap menikah. Seperti halnya wanita dimata laki-laki, kajian dengan tema “lelaki” pun menjadi satu wacana favorit yang tak kunjung usai dibicarakan dalam komunitas muslimah.
Haruskah terus menerus bersikap membohongi diri seperti contoh pertama diatas. Betapa lelahnya kita ketika harus berbuat seperti itu sementara seolah tidak ada lagi yang bisa dilakukan selain menunggu dan berharap semoga Allah segera mendatangkan pilihan-Nya. Atau masihkah tidak merasa malu untuk menghinakan diri dengan aksi over acting dan 'caper'.
Menurut Fauzil Adhim, banyaknya muslimah yang belum menikah di usianya yang sudah cukup rawan bukannya tidak siap, tetapi karena mereka tidak pernah mempersiapkan diri. Kesiapan disini, termasuk di dalamnya adalah kesiapan untuk menerima calon yang tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan sebenarnya, meski jika ditilik kembali sesungguhnya lelaki tersebut sudah memiliki persyaratan yang 'sedikit' lebih dibanding lelaki biasa. Misalnya, setidaknya sholatnya benar, akhlaqnya baik, tidak berbuat syirik dan pergaulannya tidak jauh dari orang-orang shaleh. Artinya, lanjut Fauzil, tidak usah mematok kriteria terlalu tinggi. Walaupun sebenarnya, sah-sah saja untuk melakukannya.
Pada keadaan tertentu, seringkali para muslimah seperti tidak berdaya mengatasi kelelahannya mencari -menunggu- jodoh. Padahal, ada satu hal yang boleh dan sah saja untuk dilakukan oleh seorang muslimah, yakni menawarkan diri untuk dipinang. Hanya saja, selain masih banyak yang malu-malu membicarakannya, banyak pula yang menganggap hal ini sebagai sesuatu yang tabu, karena tidak pernah dicontohkan oleh para orang tua kita. Asalkan pada lelaki yang baik-baik, dalam pandangan Islam sah-sah saja wanita menawarkan diri untuk dipinang.
Senada dengan Fauzil Adhim, Ustadz Ihsan Tanjung dalam salah satu rubrik konsultasi keluarga pernah mengatakan, seorang muslimah sebaiknya mengungkapkan perasaannya -keinginannya untuk dilamar- kepada seorang lelaki shaleh yang menjadi pilihannya, ketimbang dia lebih mungkin terkena dosa zina hati karena terus menerus mengharapkan si lelaki tanpa kejelasan atau kepastian.
Hanya saja, yang mungkin perlu diperhatikan adalah seberapa tinggi daya tawar yang dimiliki oleh para muslimah itu ketika dia harus mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan yang sering muncul adalah "seberapa pantas dirinya" saat meminta si lelaki untuk melamar dan menikahinya. Untuk hal ini, sepantasnya bukan kata-kata terlontar dari mulut untuk mengkhabarkan kepantasan diri. Namun, dengan mempertinggi kualitas keshalehahan tanpa mengagungkan kecantikan wajah, mengkedepankan akhlaq yang baik sebagai pakaian sehari-harinya disamping juga ia perlu membenahi penampilannya untuk sekedar meningkatkan kepercayaan diri, dan menjaga mata pandangannya untuk selalu bercermin kepada hati, karena disanalah cinta dapat berkembang.
Bagi mereka, Kepentingan menghaluskan wajah tidak mengalahkan kepentingannya untuk menghaluskan jiwanya, karena kecantikan yang murni justru terpancar dari jiwa yang cantik (inner beauty). Kecantikan seperti inilah yang senantiasa tumbuh sepanjang waktu. Jika hal-hal itu sudah dipersiapkan sebaik mungkin dan terpatri menjadi hiasan diri, maka melangkahlah untuk menjemput impian. Namun demikian, perlu juga rasanya untuk melatih menata hati dan berjiwa besar jika terpaksa harus bertepuk sebelah tangan atau menerima kenyataan diluar harapan. Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Read More...

Selasa, 06 April 2010

Buruk Muka, (Jangan) Cermin Dibelah


Kita tentu sering bercermin, memperhatikan setiap inci dari wajah dan penampilan sebelum keluar rumah. Tidak sedikit orang yang memerlukan waktu berjam-jam untuk bercermin, membenahi dandanan, membersihkan wajah, menyingkirkan segala apapun yang sekiranya dapat mengurangi keindahan penampilan, serta menambahkan apapun (juga) yang dapat memperindah, mempercantik diri. Bahkan tidak jarang, meski sudah berjam-jam berada di depan cermin, masih muncul perasaan kurang percaya diri sehingga memaksanya untuk kembali lagi ke depan cermin, memutar tubuh, ke kanan ke kiri, sedikit menunduk, melenggak-lenggok bolak-balik di seputar cermin hingga semuanya terasa perfect, barulah ia melangkah keluar kamar. Sudah cukup? Belum. Karena di halaman tamu, masih saja bertanya kepada ibu, adik, kakak, suami, atau istri tentang penampilannya hari ini.

Siapa sih yang tidak pernah bercermin? Jika bukan karena tempat tinggalnya yang jauh sangat terpencil sehingga tidak ada penjual cermin yang datang ke tempat itu, atau karena teramat sangat papanya bahkan sebuah cermin pun tak dapat dibelinya, mungkin tak ada orang yang tidak memiliki cermin. Kalau memang sekiranya demikian, toh bisa saja pecahan kaca cukup untuk sekedar melihat bagaimana penampilan hari ini. Tidak cukup bercermin di rumah, (biasanya wanita) masih ada orang yang tak ketinggalan untuk membawa serta cermin kecil (menyatu dengan bedak) di dalam tas kerjanya.
Di kendaraan, baik di bus maupun kendaraan pribadi kita senantiasa menyempatkan diri untuk bercermin, itupun masih ditambah senyum-senyum sendiri ketika mendapatkan ‘OK’ di wajahnya. Setiap berjalan melewati tempat parkir dimana mobil-mobil berjajar, jujur saja, pasti Anda adalah satu dari orang yang tidak membuang kesempatan untuk sekedar menoleh melihat bayangan sendiri disitu. Atau juga ketika melewati etalase-atalase toko, hal yang sama kita lakukan.
Rasa cemas biasanya langsung bereaksi ketika sekilas saja mendapatkan sesuatu yang tidak pas pada penampilan kita. Tidak jarang bahkan ada yang panik sedemikian rupa, apalagi bila saat itu tengah berada di tempat khalayak ramai. Jatuh pasaran lah, harga dirilah, malu dan sebagainya menjadi alasan untuk segera mencari tempat untuk memperbaiki penampilan. Kondisi demikian sangat wajar, karena setiap orang pada dasarnya selalu ingin tampil menarik, baik selain juga ada hasrat untuk dipandang baik. Untuk sebagian orang mungkin, berpenampilan cantik dan indah juga untuk menarik perhatian orang lain, mengharap pujian, pusat perhatian, atau sekedar kesenangan.
Apapun alasannya, termasuk karena memang ada orang-orang yang terbiasa tampil baik dan menarik, menjadikan diri ini berharga di mata orang lain itu sangat lah penting. Karena jelas, performa seseorang juga bisa terlihat dari caranya berpakaian (termasuk keserasian paduan warna), berjalan, bersikap. Tidak cukup dengan itu, masih ada tambahan aksesoris dan wewangian yang dipakai untuk menambah kesempurnaan diri. Intinya, setiap orang butuh (merasa wajib) bercermin!
Namun demikian, tentu sangat naif jika kita hanya memperhatikan penampilan luarnya saja tanpa mempedulikan aspek dalam diri kita yang sesungguhnya jauh lebih berharga. Karena jauh lebih berharga, sudah barang tentu semestinya jauh lebih diperhatikan, dibenahi dan diperindah. Dua hal yang berada didalam diri ini yang jauh lebih berharga dimaksud adalah, Akal dan Hati.
Ingat iklan layanan masyarakat “tulalit” tentang seruan membaca? Tentu saja, sebaik dan sesempurna apapun penampilan fisik jika tidak ditunjang akal pikiran yang cerdas dan sehat, menjadikannya sebagai pribadi yang tidak berharga. Kalaupun ada yang sempat meliriknya, bisa dipastikan tidak berapa lama hal itu berlangsung, mungkin bisa dihitung sesaat setelah obrolan pertama.
Hal kedua, yakni Hati. Semestinya menjadi kepentingan setiap individu juga untuk menata dan membersihkannya, untuk kemudian senantiasa memperbaharui isinya dengan hal-hal kebaikan. Jika dibiarkan tak tertata, tak diperhatikan dan apalagi tak sekalipun dibersihkan dari kotoran-kotoran yang kerap menyerang, niscaya cermin hati ini menjadi pekat oleh titik-titik debu yang pekat. Padahal, hati adalah cermin, dengan melihat hati, kita tentu bisa melihat setiap kesalahan dan kebaikan, setiap kebenaran dan kebatilan yang dilakukan. Untuk kemudian mengambil sikap, sadar dan taubat jika melakukan hal salah, dan terus meningkatkan setiap amal kebaikan.
Namun jika cermin hati ini sudah hitam pekat, tentulah tak ada yang bisa memberi tahu kita salah dan benar. Hati yang bersih senantiasa menolak setiap kebatilan, akan tetapi jika ianya sudah sedemikian kotornya, seakan tak sanggup lagi menolak setiap perbuatan maksiat yang terus menerus kita tumpuk. Maka sebelum semakin sulit dibersihkan, sebaiknya setiap titik debu yang menempel segera dibersihkan, agar cermin hati ini kerap bergetar ketika menyebutkan asma-Nya, dan bertambah keimanan setiap mendengarkan ayat-ayat Allah. Agar juga cermin hati ini bisa berteriak lantang menentang setiap kekhilafan yang kita akan perbuat.
Dan jika kedua cermin itu, (Akal dan Hati) sudah terus terasah dan dibersihkan, maka cermin diri ini akan semakin sempurna menambah kesempurnaan penampilan luar yang juga setiap hari dibenahi. Paduan dua cermin akal dan hati tentu melahirkan pribadi yang berwibawa, profesional, elegant, bijaksana, sadar kewajiban dan hak secara proporsional, selain juga pribadi shaleh yang menjadi penghias diri yang paling utama. Jadi, jangan pernah biarkan cermin akal dan hati ini tak terurus, apalagi memecah cermin itu saat mendapati diri ini tak indah dalam bayangan cermin.
Andai suatu ketika bercermin mendapatkan wajah dan penampilan yang buruk, kenapa harus membelah cermin itu? Toh, pada saat bercermin itu hanya kita yang tahu keburukan sendiri. Sikap terbaik adalah membasuh wajah agar nampak bersih berseri sehingga cermin yang tak jadi kita belah itu tetap bisa memberi tahu setiap keburukan yang ada, setiap saat. Jika setiap hari menyempatkan diri bercermin (juga membawa cermin) untuk memperbaiki penampilan luar, kenapa juga tak membawa serta cermin akal dan hati. Cermin akal adalah membaca. Membaca dalam arti luas. Dengan membaca, kata yang keluar bukan tanpa makna, bukan omong kosong, melainkan kata-kata penuh isi yang berpengaruh. Sedangkan cermin hati, adalah dzikir. Dengan senantiasa mengingat Allah, maka menjadikan hati ini peka terhadap apapun yang bathil, salah dan tidak tepat, dan sebaliknya, akan senang atas segala kebenaran yang berlaku. Wallahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama).

Read More...

Agar Nikmat Allah Bertambah


Ada sebagian manusia yang Allah cukupkan (bahkan lebih) nikmatnya pada satu sisi dimana orang-orang lain belum mendapatkannya. Misalnya soal harta. Keadaan yang demikian sesungguhnya tidak bisa dipandang bahwa Allah tidak adil dalam memberikan rizki kepada hamba-hamba-Nya. Setidaknya kita bisa menyebutkan tiga hikmah dari kebijakan Allah yang demikian. Pertama, Allah sedang menguji manusia dengan kelebihan dan kekurangannya, kedua, Sesungguhnya Dia mencukupkan sebagian nikmat kepada sebagian hamba namun menahan nikmat yang lain pada sebagian hamba tersebut, sementara nikmat yang lain itu diberikannya kepada sebagian hamba yang lain. Dan ketiga, Allah jelas sangat ingin melihat seberapa bersyukurnya manusia akan apa yang dinikmatinya saat ini.

Rizki Allah yang bisa kita nikmati tentu beragam bentuknya, ia bisa berupa harta yang dicukupkan oleh-Nya, diberinya kita pasangan hidup yang menentramkan, kehadiran seorang anak, ketenangan hidup, terhindar dari marabahaya, kenaikan pangkat dan promosi jabatan, atau bahkan sekedar masih diberikan kesempatan bisa makan meski seadanya untuk satu hari ini. Tinggal bagaimana kita memandang semua itu sebagai nikmat yang mesti disyukuri sehingga bisa menyelamatkan kita dari kekafiran dan ancaman adzab Allah yang nyata.
Allah telah memberikan nikmat pada sebagian manusia di bumi dan memberikan nikmat dalam bentuk yang lain kepada sebagian lainnya. Demikian pula Dia menahan nikmat untuk sebagian manusia, juga menahan nikmat yang lain juga untuk sebagian manusia yang lain. Hal ini perlu disadari oleh kita, bahwa setiap kali Allah menambahkan nikmat kepada saudara kita, tentu Allah dengan Kemaha-Adilan-Nya juga menambahkan nikmat kepada kita, meski dalam bentuk yang lain. Misalnya, ketika ada yang naik jabatan dan kita ikut bersyukur atas keberhasilan saudara tersebut, maka pada saat itulah Allah menambahkan nikmat berupa hati yang bersih tanpa dikotori rasa iri dan dengki.
Masalahnya kemudian, kebanyakan manusia sering terlupa untuk terlebih dulu mensyukuri nikmat yang sudah diterimanya sementara ia terus menerus meminta Allah agar menambah nikmat kepadanya. Seperti ditegaskan Allah, bahwa Dia (pasti) akan menambah nikmat kepada hamba yang pandai mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya dan memberikan adzab (yang pedih) kepada mereka yang mengingkari (QS. Ibrahim:7).
Sekarang, sebelum lagi terus menerus meminta kepada Allah akan tambahan nikmat, hitung-hitunglah seberapa besar rasa syukur kita terhadap segala nikmat yang telah diberika Allah kepada kita selama ini. Sudah barang tentu, jumlah nikmat yang takkan pernah bisa terhitung itu membuat kita lalai untuk mensyukurinya. Bentuk syukur itupun bisa dengan berbagai cara, dengan membagi sebagian rizki yang kita peroleh kepada fakir miskin, menghadirkan suasana bahagia di hati anak-anak yatim piatu dengan menyantuninya, dan yang paling berkenan adalah semakin dekatnya kita kepada Allah melalui peningkatan kualitas ibadah, atau bermacam bentuk ungkapan kesyukuran lainnya.
Allah itu Maha Kaya, disamping itu Dia juga Maha Pemurah. Maka jangan pernah ragu akan kasih sayang-Nya. Tanpa memintapun, jika Dia sudah melihat begitu bersyukurnya kita akan nikmat yang selama ini dirasakan, niscaya dia akan menambahkannya dengan nikmat-nikmat lain. Sungguh, Allah Maha Tahu akan kebutuhan, keinginan setiap hamba-Nya sehingga Dia mencukupi hal-hal yang belum dimiliki setiap hamba itu. Namun jika belum cukup terlihat rasa syukur itu, jangan pernah berharap Allah menambahkan nikmat-Nya, bahkan justru memberikan adzab yang nyata terhadap mereka yang mengingkari.
Maha benar Allah dengan segala ucapan dan ketentuan-Nya, adzab yang paling nyata dan terasa diberikan Allah kepada hamba yang tak pandai bersyukur adalah dengan cara ia menahan bentuk nikmat yang lain, atau bahkan menghentikan nikmat yang ada saat ini. Di dunia ini, ada orang-orang yang diberikan kecukupan harta, namun karena ia tak bersyukur atas nikmat itu, Allah tak berikan rasa aman dan ketenangan dalam hidupnya. Hidupnya senantiasa diliputi kekhawatiran dan kecemasan dalam menjaga hartanya. Padahal, seandainya ia menginfakkan sebagian rizkinya itu, insya Allah ketenangan akan menyelimuti setiap langkahnya.
Atau mereka yang mendapatkan kesempatan memiliki karir bagus dengan gaji yang memuaskan, namun ia tak juga memiliki seseorang yang menjadi pendamping hidupnya, padahal usianya sudah semakin beranjak. Mungkin Allah belum melihat rasa syukur yang cukup atas nikmat yang telah kita terima saat ini, sehingga Dia menahan nikmat yang lain. Sebaliknya, mereka yang telah dipasang-pasangkan dan dihadirkan kasih sayang dan ketentraman dalam rumah tangganya, itu adalah sebuah nikmat yang juga perlu disyukuri. Jika pasangan-pasangan itu belum dikaruniai anak atau belum mendapatkan kecukupan harta dan selalu kekurangan, bisa jadi mereka belum benar-benar bersyukur atas karunia dan nikmat mendapatkan pasangan hidupnya. Sesungguhnya, kebijakan Allah menahan nikmat lain merupakan ‘adzab’ karena kita belum benar-benar bersyukur atas nikmat sebelumnya.
Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang terus menerus ditambah nikmatnya padahal tak sedetikpun ia pernah mengucapkan pujian kepada Allah. Atau sebaliknya, mereka yang tak henti-hentinya mendekatkan diri kepada Allah namun tetap dalam hidup kekurangan. Tentu saja, Allah tengah menguji mereka dengan keadaan yang sekarang, apakah ia tetap beriman atau ingkar. Dalam hal ini, Allah menegaskan dalam sebuah hadits qudsi, "Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan. Lalu kami menguji mereka dengan kekayaan, kelegaan, dan kesehatan badan sehingga baiklah urusan agama mereka. Diantara hamba-hamba-Ku yang mukmin ada pula sebagian yang tidak bisa baik urusan agama mereka kecuali dengan diberi kekurangan, kemiskinan, dan penyakit sehingga baiklah urusan agama mereka. Aku mengetahui dengan apa hamba-Ku yang mukmin menjadi baik dalam urusan agamanya".
Sekali lagi, kita menyadari akan kasih sayang dan pemurahnya Allah, namun yang perlu diketahui adalah bagaimana membuat Allah menjadi lebih kasih, lebih sayang dan lebih pemurah kepada hamba-hamba-Nya, yakni dengan cara mensyukuri setiap nikmat yang telah diberikannya. Niscaya, sesuai janji-Nya, Allah akan menambahkan dan mencukupi nikmat kepada kita, tanpa harus kita memintanya. Karena sesungguhnya, Dia Maha Mengerti akan setiap keluhan yang tak terlontarkan dari hamba-hamba yang bersyukur. Wallaahu ‘a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

Read More...

Ketika Bidadari Turun ke Bumi


Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah. Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?

Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?
Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1. Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2. Ia menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3. Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4. Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5. Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6. Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
7. Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)
Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi. (Yesi Elsandra/special for Hufha)

Read More...

Impian Arini


Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya untuk menggunakan kudung menutupi kepalanya. Jangankan untuk berkerudung, mendekat dengan mereka yang anggun berbusana muslimah pun tak pernah dilakukannya. Namun pertemuannya dengan teh Asih, istri kang Nirwan tetangga barunya membuatnya berbeda, terlebih setelah tetangga barunya itu menghadiahinya sebuah jilbab. Kini, meski malu-malu ia sudah mulai menutupi bagian atas tubuhnya dengan jilbab, plus baju gamis barunya. Anggun.

Sebelumnya tak pernah terpikirkan olehnya untuk menggunakan kudung menutupi kepalanya. Jangankan untuk berkerudung, mendekat dengan mereka yang anggun berbusana muslimah pun tak pernah dilakukannya. Namun pertemuannya dengan teh Asih, istri kang Nirwan tetangga barunya membuatnya berbeda, terlebih setelah tetangga barunya itu menghadiahinya sebuah jilbab. Kini, meski malu-malu ia sudah mulai menutupi bagian atas tubuhnya dengan jilbab, plus baju gamis barunya. Anggun.
Namanya Arini, sejak masih di SMU terkenal tomboy. Orang akan menyangka ia memakai rok setiap berangkat ke sekolah. Padahal tidak, roknya lebih pas disebut celana kedombrongan sebatas lutut yang terlihat seperti rok kebanyakan siswi sekolah lainnya. Rambutnya yang dipangkas habis gaya pria membuat orang lain sering salah memanggilnya, “mas …” Tidak seperti kebanyakan perempuan, ia berbicara lantang, ceplas-ceplos tak sedikitpun kesan kemayu, termasuk lagak dan cara berjalannya.
Selepas SMU dan mulai memasuki dunia kampus. Tomboynya makin menjadi. “Gue bebas berekspresi, selamat tinggal putih abu-abu,” teriaknya suatu ketika. Tidak ada yang berubah, rambutnya tetap pendek. Oblong, celana jeans-nya plus jaket belelnya tak ketinggalan. Arini juga tak beranting. Dan … semakin banyak yang salah memanggilnya, “mas …” Mungkin status keperempuanannya hanya terlihat di dua hal, pas ke toilet dan kalau sedang sholat (biar tomboy juga sholat lho…).
Nah, pas ke toilet kampus inilah ia sering menjumpai teman-teman jilbabernya. Mereka cantik … pikir Arini. Tidak di kampus, tidak di Mal atau dimana tempat ia sering menjumpai orang-orang berjilbab, menurutnya semua punya gaya yang sama dan sangat khas. Jilbab panjang sampai sepaha, baju panjang yang hampir menutup semua tubuhnya. Cara berjalan yang juga hampir tak ada bedanya. “Satu-dua sih beda. Ada yang gesit seperti dikejar anjing, ada juga yang santai. Tapi semuanya rata-rata berjalan dengan menundukkan kepala,” ingatnya.
Kebetulan di sebelah rumahnya ada tetangga baru yang ngontrak. Keluarga muda yang belum memiliki anak. Arini berkenalan dengan mereka. Itupun karena ibu muda itu dengan ramah menegur terlebih dulu setiap orang yang tinggal di daerahnya, termasuk Arini. Namanya, Asih, Arini memanggilnya, teh Asih. Suaminya yang lumayan cool tak berjenggot itu, kang Nirwan. Awalnya Arini mengira keramahan itu hal biasa yang dilakukan layaknya pendatang baru. Tapi ternyata tidak. Dua bulan dua minggu sudah ia bertetanggaan dengan keluarga itu, teh Asih dan kang Nirwan tetap ramah, malah semakin akrab dengan semua, juga Arini.
“teh, akhwat itu apa sih …” Arini menanyakan hal tersebut kepada teh Asih karena ia sering mendengarnya dalam interaksi beberapa kelompok di kampusnya. Setelah dijelaskan panjang lebar, Arini menambahkan pertanyaannya, “Kalau saya ..., akhwat apa bukan?” Terus pertanyaan demi pertanyaan mengalir seputar kosa kata yang ditelinganya akrab terdengar namun terasa asing, seperti ikhwan, ana, antum, akhi, ukhti de el el.
Arini memang serba bingung, teh Asih menjelaskan panjang lebar tentang definisi kata-kata yang ditanyakannya. Namun pada kenyataannya tak satupun akhi berjenggot dengan kehitaman dikeningnya, juga ukhti berkudung panjang yang menyapanya dengan sebutan ukhti dan melabelinya akhwat. Untuk sementara ia berasumsi, sebutan itu hanya berlaku dikalangan mereka. Tidak untuk dirinya yang plontos tak berkudung, polos tak bergamis. Apalagi sikapnya yang masih teplak teplok terhadap lawan jenis dan tegur sapanya yang gue-elo.
Pernah Arini diundang ke pengajian di kampusnya, dan ia mencoba untuk berkerudung. Ia tak punya jilbab yang panjang seperti yang biasa dikenakan teman-temannya. Alhasil, jilbab pendek alias bergo milik ibunya yang ia pakai. Sehabis pengajian, Arini bersungut-sungut karena sepanjang pengajian lebih banyak teman senasibnya (yang pakai jilbab hanya sewaktu pengajian) yang menegurnya. Ada sih beberapa, tapi kebanyakan ukhti itu lebih akrab dengan sesama jilbab panjang saja. Cuma salaman, tidak ada peluk cium pipi kiri-kanan seperti yang didapat sesama akhwat ketika datang maupun hendak berpisah. Indah dan sejuk Arini memandangnya, tapi tidak dirasa dihatinya.
Ada kerinduan yang tertanam akan kedamaian menjadi perempuan sebenarnya. Menutup aurat sebagai fitrahnya dan menjaga pandangan serta kemaluannya. Kembali Arini bertanya kepada teh Asih, apakah seorang akhwat boleh bersikap tomboy, boleh ngomong gue-elo, boleh bertegur sapa dengan lawan jenis, boleh bercanda, boleh ke Mal, boleh …. . Yang jelas tertangkap dalam benaknya, teh Asih agak berbeda dengan beberapa ukhti di kampusnya, meski teh Asih juga seorang akhwat. Begitu juga kang Nirwan, yang dengan sopan dan senyum penuh keramahan menegurnya, yang tidak jarang mengajaknya berdiskusi tentang Islam atau apa saja. kang Nirwan tidak kaku, pikir Arini. Meski ia tahu lelaki itu tetap menjaga pandangannya, dan tak sekalipun menyentuhnya.
Arini, dan juga banyak teman kampusnya, bukan tak ingin menjadi akhwat, tapi ia hanya ingin menjadi akhwat seperti teh Asih, juga beberapa ukhti yang cukup hangat tersenyum dan menyapanya. Arini ingin menjadi akhwat bukan sekedar agar tak ada lagi yang menyapa "mas" kepadanya. Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan besar dibenaknya, kenapa hanya sebagian kecil yang memandang dirinya seperti yang dilakukan teh Asih …, hanya sebagian dari ukhti itu yang bisa menerimanya sebagai “akhwat” meski jilbabnya tidak sama panjangnya. Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama, seperti diceritakan seorang ‘ukhti’).

Read More...

Labels

Labels

Labels